Skip to content

Lulubekisar's Blog

Pemerhati Ayam Bekisar

KANGEAN yang terletak di wilayah Sumenep, Madura, merupakan cikal bakal lahirnya istilah ayam bekisar. Ayam bekisar, itulah kini dipandang jenis ayam yang memiliki kelebihan dibanding ayam-ayam yang lain. Bahkan, ayam bekisar semacam menjadi trade mark tersendiri bagi pemeliharanya. Orang yang memelihara Ayam Bekisar sering disebut-sebut sebagai memiliki strata sosial yang lumayan alias orang berduit.

Mengenai asal-usul Ayam Bekisar yang disebut-sebut berasal dari Madura, konon tidak lepas dari diasingkannya seorang keturunan putera raja Mataram yang bernama Begisar. Sekitar tahun 1700-an, Begisar diasingkan di Pulau Kangean.

Tetapi mengenai sebab musabab Begisar diasingkan di tempat itu, hingga kini tidak diketahui secara pasti.

Saat menjalani pengasingan itulah, Begisar mencoba mengawinkan ayam hutan hijau jantan (gallus varius) dengan ayam kampung betina (gallus domestica). Keturunan dari hasil kawin silang itu kemudian dipersembahkan kepada pejabat atau penguasa setempat sebagai tanda mata. Berdasar hal itu, akhirnya diketahui bahwa Begisar memiliki makna cendera mata. Hingga kini Ayam Begisar atau akrab dengan sebutan Ayam Bekisar selalu dipersembahkan sebagai cendera mata (souvenir) kepada kalangan tertentu yang memiliki ‘kekuasaan’.

Kisah mengenai asal-usul Ayam Bekisar itu dituturkan oleh Sekjen Keluarga Penggemar Bekisar Indonesia (KEMARI) Pusat yang juga sebagai Pjs Ketua Bidang Lomba dan Juri Nasional, Lulu Budihardjo. Lulu Budihardjo yang tinggal di Turi, Sleman selama ini memang kondang sebagai pecinta sekaligus peternak Ayam Bekisar ‘berkelas’. Di kalangan pecinta Ayam Bekisar, nama Lulu Budihardjo sudah tidak asing lagi. Hal itu tidak lepas dari kegigihannya dalam mempersatukan para pecinta Ayam Bekisar dalam satu komunitas, yakni di KEMARI.

Lulu Budihardjo kepada Merapi mengungkapkan organisasi pecinta Ayam Bekisar didirikan 19 Desember 1989 oleh Mantan Menteri Kehakiman RI, H Ismail Saleh SH. Hingga kini KEMARI mempunyai 24 cabang yang tersebar di Jawa, bali dan Madura. Selain itu, satu-satunya ayam yang memiliki taman di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, hanya jenis Ayam Bekisar.

Lulu Budihardjo tentu saja tidak asing soal masalah-masalah yang berhubungan dengan beternak Ayam Bekisar. Bahkan, secara khusus Lulu Budihardjo memiliki kiat-kiat tersendiri dalam beternak Ayam Bekisar. Dijelaskan, memelihara anakan Ayam Bekisar idealnya sejak usia 1 bulan dan jangan sekali-kali membeli anakan Ayam Bekisar saat musim memasuki pancaroba. Ketika anakan Ayam Bekisar berusia lebih dari 1 bulan, harus segera dipisah untuk menghindarkan terjadinya saling ‘memakan’. Hal itu disebabkan Ayam Bekisar memiliki sifat kanibal.

Lulu Budihardjo menambahkan, setelah anakan Ayam Bekisar menginjak usia 4 bulan, sebaiknya dikrakap saat masuk senja. Hal itu untuk menghindari angin malam dan gangguan binatang lain. Agar anakan Ayam Bekisar tidak terserang penyakit, hendaknya sangkar dibersihkan secara rutin, dijemur dan disemprot pada pagi hari. “Perlu juga dilakukan penetesan madu kepada anakan Ayam Bekisar secara rutin, yakni satu minggu sekali,” jelas Lulu Budihardjo. Pada saat dilakukan penjemuran, hendaknya antara anakan yang satu dengan yang lain dipisah, dengan tujuan untuk niteni suara khas masing-masing.

Apabila anakan Ayam Bekisar sudah memasuki usia 6-7 bulan, saatnya anakan-anakan itu mulai digantang dengan ketinggi maksimal 5 meter, agar nantinya jika sudah besar memiliki mental yang kuat apabila dikonteskan dalam lomba. Hal yang perlu diperhatikan lagi adalah masalah pakan, yakni dengan diberi Pur BR, AD 1 dan jagung giling. “Memasuki usia 8 bulan, Ayam Bekisar sudah mulai diarahkan ke lomba pada kelas pemula,” jelas Lulu Budihardjo.

Lulu Budihardjo menjelaskan, kiat-kiat dalam beternak Ayam Bekisar yang dilakukannya telah membuahkan hasil nyata. Beberapa Ayam Bekisar miliknya berhasil menjadi jawara dalam berbagai lomba. Sebut saja ‘Bento’ yang dipelihara sejak usia 5 bulan, berhasil menjuarai kontes Ayam Bekisar Piala Sri Sultan HB X, Gubernur DKI Jaya, Gubernur Jateng, Kapolda DIY, dan Walikota Yogya.

Ayam Bekisar lain, ‘Gending’, ‘Linggo’, ‘Sembayu’, ‘Dalu’, ‘Banter’, dan ‘Langgeng’ yang dipelihara sejak usia 2 bulan berhasil merajai berbagai lomba di DIY, Jateng, dan Madura. “Untuk kelas utama, saya memiliki Ayam Bekisar bernama ‘Gale’ yang sudah 8 kali juara,” jelas Lulu Budiharjo. Lulu Budiharjo juga masih memiliki Ayam Bekisar yang diandalkan di berbagai lomba, ‘Tombo Ati’ yang dipelihara sejak usia 2 bulan, telah meraih 2 kali juara Madya Nasional.

Lulu Budihardjo mengungkapkan untuk bisa mencapai tataran juara, Ayam Bekisar perlu secara kontinyu dilatih. Caranya, dengan melatih pendamping Ayam Bekisar betina yang disukai, biasanya unsur merah atau hitam-putih untuk menenangkan. Setiap pagi, Ayam Bekisar dimandikan kemudian digantang dengan ketinggian 2-3 meter. Jika sudah memasuki senja, sangkar dikrakap. “Agar dalam setiap lomba muncul kesan baik, pemberian nama harus dipilih yang baik dan sopan,” jelas Lulu Budihardjo.

Iklan

%d blogger menyukai ini: